Gunung Bromo

Dipostkan April 5, 2017
Ditulis oleh Administrator Admin


Nama gunung Bromo sudah begitu terkenal, bahkan hingga di kalangan wisatawan mancanegara. Gunung berapi yang masih aktif ini merupakan salah satu ikon wisata provinsi Jawa Timur. Orang sering bilang, berkunjung ke Jawa Timur belum lengkap jika tidak menapakkan kaki di Gunung Bromo.


 
Gunung Bromo, yang terletak di Taman Nasional Bromo, Tengger, Semeru ini, menawarkan sederet keindahan alam yang spektakuler dan sayang untuk dilewatkan. 

Berikut beberapa daya tarik gunung Bromo yang harus Lokasioner lihat/kunjungi:
 
Matahari Terbit/Sunrise – Pemandangan indah yang tercipta kala matahari sedang terbit merupakan sasaran umum utama dari wisata Gunung Bromo. Detik-detik menjelang sang surya muncul sepenuhnya untuk menerangi hari saat terindah ini diincar oleh banyak wisatawan. Sang surya mulai beranjak dari peraduannya dengan semburat warna jingga keemasan terpancar, yang pertama-tama kecil, kemudian perlahan membesar, sampai terbentuk bulatan utuh. Karya agung Sang Pencipta ini sungguh dinanti-nanti orang: mereka rela bangun pagi-pagi buta dan menembus udara dingin demi mencapai puncak Penanjakan, yang merupakan lokasi terbaik untuk menikmati indahnya matahari terbit.
 
Kawah Aktif – Kawah yang mengepulkan asap putih dari mulut berdiameter sekitar 800 meter (utara – selatan) dan 600 meter (timur – barat) ini sangat indah. Selain itu, lokasinya yang terletak di lautan pasir (padang savana) Gunung Batok membuatnya tampak semakin mempesona. Rupanya inilah alasan orang rela berjerih payah menaiki lebih dari 250 anak tangga untuk menggapai puncak Bromo. 



Pasir Berbisik – Lautan pasir seluas 10 kilometer persegi ini membentang luas di sekeliling kawah Bromo. Namanya "Pasir Berbisik" karena, saat angin berhembus, pasir beterbangan dan menimbulkan bunyi seperti orang berbisik, yang mungkin terdengar agak menakutkan sekaligus menakjubkan. Dengan kuda sewaan yang banyak ditawarkan, berkuda di atas lautan pasir ini memberikan suatu pengalaman tersendiri.
 
Perbukitan Teletubbies – Padang rumput dan perbukitan di kawasan savana ini cantik dan fotogenik. Nuansa alam ini dipenuhi oleh semak hijau dan bunga kuning, yang berpadu dengan indahnya warna biru langit. Bentuknya seperti kubah raksasa dan mirip dengan bukit yang ada di serial teletubbies, itulah mengapa orang sering menyebutnya sebagai Perbukitan Teletubbies.
 
Suku Tengger – Suku Tengger adalah suku asli penduduk asli di sekitar Gunung Bromo. Ada tiga teori mengenai asal nama Tengger, tapi yang popular versi legenda bahwa nama Tengger adalah gabungan dari nama Roro AnTeng dan Joko SeGer.
 
Upacara Yadnya Kasada – Upacara yang diadakan setahun sekali ini dilaksanakan saat tengah malam hingga dini hari, yaitu saat bulan purnama sekitar tanggal 14 atau 15 di bulan kasodo (kesepuluh) menurut penanggalan Jawa. Upacara Yadnya Kasada bermula di Pura Luhur Poten Bromo yang berada di bawah kaki gunung Bromo. Prosesinya dilakukan dengan berjalan kaki menuju ke puncak gunung Bromo, untuk melemparkan sesaji berupa hasil pertanian, perkebunan, dan ayam hidup ke dalam kawah.
 
Menurut legenda, suku Tengger berasal dari keturunan Roro Anteng, putri Raja Brawijaya, dan Joko Seger, putra seorang Brahmana, yang hidup di masa akhir Kerajaan Majapahit. Karena terdesak pengaruh Islam waktu itu, rakyat sebagian melarikan diri ke Bali, dan sebagian lagi yang dipimpin pasangan suami istri Roro Anteng dan Joko Seger berdiam diri di sekitar pedalaman Gunung Bromo dan Gunung Semeru.
 
Pasangan Roro Anteng dan Joko Seger telah menikah lama tapi belum dikaruniai anak, lalu naiklah mereka ke puncak Gunung Bromo dan bersemedi memohon kepada dewa, akhirnya permohonannya dijawab dengan syarat anak bungsu mereka harus dikorbankan sebagai persembahan yang dilemparkan ke dalam kawah. Roro Anteng mengandung dan melahirkan anak sampai 25 orang putra putri. Namun, karena tidak tega menyerahkan Raden Kusuma, putra bungsunya, mereka mengingkari janji, sehingga dewa marah dan membuat jilatan api besar yang keluar dari kawah. Penduduk berlarian menyelamatkan diri, tapi Raden Kusuma lenyap dan terdengar suara gaib yang meminta agar setiap tahun diadakan upacara persembahan di kawah.

Gunung Bromo sendiri dipercaya sebagai gunung suci dan namanya berasal dari salah satu dewa utama Hindu, Brahma; punya ketinggian 2.392 meter di atas permukaan laut, secara administratif berada di empat wilayah kabupaten yaitu Malang, Lumajang, Pasuruan, dan Probolinggo.
 
Banyak cara menjangkau Gunung Bromo, yang paling nyaman adalah:

Surabaya-Probolinggo-Cemoro Lawang-Gunung Bromo: jika Anda naik pesawat, sesampai di Bandara Juanda teruskan dengan naik bus Damri ke terminal bus Bungurasih Surabaya. Selanjutnya, beralihlah ke bus jurusan Jember atau Banyuwangi dan turun di Probolinggo. Lanjutkan dengan naik angkutan desa menuju kecamatan Ngadisari, di lereng perbukitan Cemoro Lawang, yaitu desa yang terdekat Gunung Bromo. Ngadisari punya banyak pilihan tempat menginap dan makan, jadi Anda bisa istirahat sejenak atau langsung menuju Penanjakan dan area sekitar Taman Nasional dengan jip yang bisa disewa dengan mudah.
 
Malang-Tumpang-Gubugklakah-Ngadas-Jemplang-Gunung Bromo, jaraknya sekitar 53 kilometer, pemandangan alamnya sepanjang jalan cantik memukau; tapi rute ini cukup berat, tanjakannya cukup terjal, jalannya berkelok dan menanjak. Pemandangan perkebunan apel menghampar di sepanjang jalan memasuki Gubugklakah, desa  penghasil apel. Setelah melewati Ngadas terdapat air terjun Coban Pelangi yang sangat menggoda.
 
Selain itu masih ada alternatif:
 
Malang-Purwodadi-Nongkojajar-Tosari-Wonokitri-Penanjakan, berjarak 83 kilometer.
 
Surabaya-Pasuruan-Warung Dowo-Tosari-Wonokitri-Gunung Bromo, berjarak sekitar 2~3 jam berkendara mobil.
 
Banyak pilihan tempat menginap dan tempat makan di kawasan sekitar Gunung Bromo. Homestay dan guest house yang digemari para wisatawan beransel maupun hotel kelas atas dengan 100 kamar bisa dipesan dengan mudah. Restoran buka dari jam 3 pagi sampai jam 9 malam, menyediakan berbagai macam masakan khas Indonesia.
 
Untuk melihat matahari terbit sebaiknya Anda menginap di kawasan sekitar Gunung Bromo. Bangunlah pada pukul 2 dini hari untuk persiapan mendaki agar Anda bisa sampai di puncak Penanjakan jam 4 subuh untuk menunggu matahari terbit sekitar jam 4.30.
 
Suhu udara di kawasan Gunung Bromo berkisar antara 3 ~ 20 derajat Celcius, bahkan kadang bisa mencapai minus 0 derajat Celcius. Oleh karena itu, sebaiknya persiapkan kaus kaki, sarung tangan, syal, jaket, topi yang menutupi telinga, dan sepatu olahraga.
 

Komentar

Belum ada komentar

Posting comments after three months has been disabled.